Walyatalaththof

“…Dan Hendaklah Ia Berlaku Lemah Lembut…”. (Q.s Al Kahf : 19).

Latar Belakang Yayasan Amanah Kita

Implementasi Al Qur’an
Sepanjang sejarah peradaban umat manusia, keberadaan, dinamika dan interaksi antar manusia, suku maupun bangsa akan selalu diatur maupun dipengaruhi oleh norma-norma, adat istiadat, ajaran maupun agama-agama dan sudah pasti akan membawa dampak yang positif bagi perikehidupan mereka.

Namun demikian, sejak periode kedatangan Islam yang dimulai pada 14 abad yang lalu, pengaruh ajaran Islam yang dibawa oleh seorang Rasul ditengah bangsa Arab, membawa dampak yang sangat besar terhadap kemanusiaan, baik secara individual maupun komunal.

Keberadaan sosok , seorang manusia yang paripurna secara fisik dan spiritual, yang juga dijuluki sebagai Al-Qur’an yang berbicara, mendorong setiap manusia untuk berupaya meraih kesempurnaan ruhani nya, ditengah keterbatasannya sebagai makhluk material yang fana.

Dalam setiap aktifitas risalah dan dakwah beliau SAW, kedudukan al-Qur’an, disamping kedudukan Rasulullah itu sendiri, telah menjadi ruh sekaligus petunjuk bagi setiap manusia yang mau berfikir.
Setiap surah, ayat maupun huruf yang terkandung di dalam Al-Qur’an menginspirasi manusia untuk mengambil jalan kebenaran dan membangun karakter mulia.

Rasulullah SAW dalam setiap tugas kenabiannya, menyeru kepada setiap manusia untuk tak henti-hentinya meraih kedudukan tertinggi dalam kemanusiaannya, dengan jalan memanusiakan manusia.
Dan ini merupakan inti dari seruan risalah yang di amanahkan Ilahi atas nya, SAW.
Terletak tepat ditengah-tengah Al-Qur’an, (QS : Al Kahfi) terdapat ayat yang berbunyi; “Walyatalaththaf,” (…”dan hendaklah ia berlaku lemah lembut,”).
Ayat 19, di dalam surah Al Kahfi ini merupakan seruan dan perintah Allah SWT kepada seluruh manusia agar memiliki karakter yang santun dan berperilaku lemah lembut terhadap semua makhluk ciptaan-Nya.

Pusat Risalah
Keberadaan masjid sebagai pusat aktifitas kenabian dan sekaligus penyebaran risalah suci diawali dari pendirian Masjid Nabawi yang terletak di kota Yastrib, yang kemudian diganti namanya oleh Rasulullah SAW dengan nama “Madinah al Munawarah.”
Makna harfiah dari Madinah al Munawarah adalah sebuah kota yang penduduknya berbudaya tinggi dan kebudayaannya disinari oleh wahyu Al Qur’an dan sekaligus menjadi embrio dari masyarakat madani.

Selanjutnya, tersebarnya ajaran Islam ke seluruh penjuru bumi, tak akan lepas dari peran masjid.
Adapun masjid yang dibangun di kawasan-kawasan baru diseluruh dunia, masing-masing kemudian menyimpan rekaman dakwah, rekaman perjuangan dan rekaman dialog lintas peradaban.

Peran Peradaban Islam
Meski Islam tercatat sebagai agama terakhir yang menjadi bagian dari lintasan sejarah dunia, namun sebagai ajaran yang terbilang baru, Islam telah memainkan peran sentral dalam membangun peradaban dunia yang berkeadilan.
Di awali dari pengangkatan Rasulullah SAW di kota Mekah hingga hijrah beliau ke kota Madinah, dimana kemudian mendeklarasikan pemerintahan yang bersendikan ajaran Monotheisme, maka Islam pun mulai menebar pesan universalnya kepada setiap bangsa.

Peran insan teragung sepanjang masa inilah, yang mempertegas citra masjid Nabawi sebagai pusat peradaban manusia pada masanya, dimana kader-kader terbaik didikan beliau SAW, berjalan melintasi ruang dan waktu dengan membawa pesan-pesan Islam yang Rahmatan Lil Alamin.

Hingga setiap masjid yang kini tersebar diberbagai belahan dunia telah menjadi katalisator antara nilai Islam rahmatan Lil Alamin yang bersifat universal dengan nilai budaya suatu bangsa yang bersifat lokal, hal ini yang melahirkan peradaban Islam yang dinamis dan humanis.

Mewujudnya peradaban Islam yang adiluhung ini menjadikan masjid sebagai representasi dari keberadaan nilai-nilai Ilahiah yang membumi.